Seuramoe Rinyeun

Sabtu, 20 Oktober 2012

Lambang RI Mirip Kerajaan Samudera Pasai



Lambang Kerajaan Samudera Pasai (sumber: R Indra S Attahashi)
Lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera  Pasai yang duluan eksis.

Jangan salah duga dua lukisan di atas sekilas mirip. Namun kalau diperhatikan detil sangat berbeda. Keduanya juga merupakan lambang dua negara yang berbeda. Yang pertama Garuda Pancasila lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan yang kedua lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Asal muasal penggunaan lambang Garuda Pancasila sebagai lambang negara adalah bermula saat Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II (Sultan Hamid II) memenangi sayembara lambang negara. Sayembara ini diadakan oleh Presiden Soekarno. Sebelumnya ada usulan lambang negara yang diajukan oleh M. Yamin namun ditolak oleh panitia karena masih ada pengaruh Jepang melalui penempatan sinar matahari. 

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, baru pada tahun 1950 kita memiliki lambang negara. Jadi selama lima tahun itu Indonesia nirlambang negara. Garuda Pancasila ditetapkan sebagai lambang Negara RI pada 11 Februari 1950 yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951.

Lalu Presiden Soekarno memperkenalkan lambang itu kepada masyarakat pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.  Sebelumnya Garuda juga sudah menjadi lambang kerajaan atau stempel kerajaan di Jawa seperti Kerajaan Airlangga.

Sebelum digunakan secara resmi sebagai lambaga negara RI, Garuda juga sudah dipakai sebagai lambang Kerajaan Samudera Pasai yang dulu kala berpusat di Aceh Utara. Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke 13 atau pada 1267. Seorang petualang Ibnu Batuthah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha menuturkan Samudera Pasai sudah menjadi pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara.

Siapa sebenarnya yang merancang lambang Kerajaan Samudera Pasai? “Lambang Kerajaan Samudera Pasai dirancang oleh Sultan Samudera Pasai Sultan Zainal Abidin. Lambang burung itu bermakna syiar agama yang luas, berani dan bijaksana,” sebut R Indra S Attahashi kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/10).

Indra menjelaskan, lambang berisi kalimat Tauhid dan Rukun Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan Rukun Islam.

Pria kelahiran 1974 itu menjelaskan lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Ketika itu di Aceh Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu

“Bisa saja disebut, lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai yang duluan eksis sebelum kaum Nasionalis Marhaenisme merancang NKRI,” ungkap Indra yang juga generasi ketujuh dari Kerajaan Sungai Iyu.

Indra menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.

Disebutkan, asal-usul pendiri Kerajaan Samudera Pasai berasal dari keturunan Turki yakni Al Ghazy Syarif Attahashi yang merupakan panglima memimpin utusan Dinasti Usmaniyah (Ottoman) yang membantu Aceh menghadapi serangan Portugis. Kemudian panglima ketujuh itu menikah dengan seorang putri Sultan Iskandar Muda.

Perihal lambang Negara Indonesia yang mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara. Setelah digelar seminar  International Conference and Seminar "Malikussaleh; Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.

Lambang itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.

Ibrahim menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai. Menurutnya, perlu pengkajian lebih lanjut

“Panitia melakukan pengkajian konprehensif mengenai lambang atau gambar tersebut dan kemungkinan dibahas pada International Conference and Seminar Malikussaleh kedua pada 2013,”  ungkap Ibrahim yang mantan ketua panitia konferensi itu kepada Beritasatu.com,  Sabtu (6/10).

Terlepas dari klaim inspirasi Garuda dari lambang Kerajaan Samudera Pasai, sejarawan LIPI Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia. "Ini bukanlah sebuah klaim yang menjurus ke arah negatif. Ini merupakan sebuah bentuk kecintaan bangsa Indonesia, yang dulu saat proses pemilihan lambang negara memang ikut terlibat," kata Asvi
Penulis: Murizal Hamzah
http://www.beritasatu.com/fokus/76210-lambang-ri-mirip-kerajaan-samudera-pasai.html

Jumat, 19 Oktober 2012

Menghayal

Memandang pantai ini benar-benar bisa menenangkan hati. Tiap riak kecil di permukaanya adalah sebuah tanda kehidupan, tiap riak itu adalah sebuah gerakan menghentak dari ikan yang masih kecil. Begitu kecil hingga yang terlihat hanyalah efek terhadap lingkungannya sedangkan makhluknya sendiri tidak terlihat. Langit yang indah terpantul di sana. Sebuah langit yang tidak stabil karena angin seolah enggan berhenti mengusik permukaannya.
Mungkin dunia juga seperti pantai ini. Banyak kehidupan2 kecil yang jarang kita perhatikan karena kita terlalu sibuk melihat semua riak tanpa pernah tahu ada kehidupan yang begitu kecil di sana.........

Rabu, 17 Oktober 2012

lamunan Jiwa



Detik-detik waktu mengejutkanku
Tersentak dalam lamunan panjang
Jiwa memanjatkan puji syukur
Besarnya rahmat Ilahi yang diberikan

Hidup sering tak mengenal arah
Tertatih-tatih dalam samudra luas
Menyikapi hidup seakan berubah
Tak ada perubahan yang menyapa

Seorang anak manusia termenung
Tak tahu apa yang dipikirkannya
Mungkinkah mengadu nasib
Ataupun problema hidup yang besar

Desiran ombak menyapu lamunannya
Udara kian masuk ke rongga pernapasan
Memberikan kehangatan lewat hembusan angin
Mentari seakan membakar kulitnya

Menanti sang Surya memancarkan cahaya
Merasakan sesuatu yang berarti
Hanya hidup seperti semu belaka
Harapan pupus di tengah jalan

Tangannya yang kurus bergerak
Memegang ranting yang patah
Menuliskan sesuatu di atas pasir
Tapi semu belaka tak dapat terbaca

Jiwa tak lagi bersuara
Perjuangan akan sia-sia
Jalan hidup seakan sirna
Hawa seakan menusuk jiwa

Tunjukkan yang terbaik Ya Rabb
Tuntunlah jiwa yang telah kaku
Berilah kesejukkan didalamnya
Untuk nencapai rahmatMu

Senin, 15 Oktober 2012

Minggu, 07 Oktober 2012

Hari Ini Berulang Tahun



Pagi ini begitu saya buka email banyak dari forum-forum online mengucapkan selamat ulang tahun. Rupanya hari ini saya berulang tahun, suatu hal yang memang tidak pernah saya rayakan.
Hari ini Senin 8 oktober 2012 saya genap berusia sekian  tahun.
Adakah teman-teman yang berulang tahun hari ini juga ? Jika ada selamat ya .. Juga kepada teman-teman yang telah berkenan membaca tulisan ini, baik yang silent reader maupun yang memberi yang berkomentar, semoga kita tetap diberi kekutan oleh Allah SWT untuk terus menjalani hidup ini dengan menebar kebaikan dan berguna untuk orang lain … Amiin.
Sepertinya waktu berjalan sangat cepat, dari bulan kebulan tahun ketahun tidak terasa hari ini saya sudah berumur segini.
Benar juga hidup ini hanya sebentar, seperti seorang musafir yang sedang beristirahat dari perjalanan panjang, dunia ini panggung sandiwara, Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal salih , saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran.
Ada memory yang tidak pernah terdelate dibenakku meski sudah puluhan tahun, diantaranya
- Ibu yang selalu menyayangi kami dan yang selalu menasehati kami
- Ayah yang sibuk bekerja menafkahi kami kadang ke tempat kerjaan walaupun di terik matahari. MaklumAyah kami berprofesi sebagai seorang petani.
Sebenarnya masih banyak kenangan yang tak terlupakan, tetapi terlalu panjang untuk dituliskan disini, bikin bosan yang baca hehehe. salam........

Kamis, 04 Oktober 2012

Aku dan kawan ku



Senyum hangat surya kala itu, tersentak sejenak entah bila masa lalu
Dulu hanya bintara di hampaan
Sang raja penuh kawalan dari terpaan kuningan lontaran besi tua
Aku dan kawan ku
Kamilah yang teriris segala kepediahan butiran maut
Dengan keihlasan hati dan teriakakan SEURAMOE MEKKAH
Aku dan kawan ku
Kamilah yang basah dengan nadi yang merekah
Di senyum hangat ku berkata di naluri
Tanpa kusadari peluh kesah linangan di pipi
Dulu hanya bintara sekarang pun masih tiada harga
Dengan jalan ku terpinggkal
Langkah kaki tak sejajar
Adakah yang mmelirik sudi????
Adakah aku dan kawanku
Kami di hiasi dengan janji janji itu
Masih dalam nohta sepenggal kata hudep saree matee sajan
Tapi aku dan kawanku
mengapa tidak di sertakan dalam SARE-SARE DAN SAJAN- SAJAN,
Aku dan kawan ku menanti jawaban mu....
Karya : tgk Asad Mursalin Al khatat (asad.mursalin@yahoo.co.id)